Recent Updates Page 2 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Salman Kan 1:57 am on January 11, 2012 Permalink | Reply
    Tags: kewajiban menikah, menikah itu mahal, menikah itu murah, sudut pandang menikah   

    Rumus Menikah Zaman Sekarang 

    Rumus berumah tangga:
    Mobil: Rp. 150 juta
    Rumah: Rp. 350 juta
    Resepsi: Rp. 100 juta

    Semua ditotalkan menjadi Rp. 600 juta. 600 juta modal untuk berkeluarga. Nah!
    Ada banyak pendapat mengenai memulai berumah tangga, khususnya pernikahan. Ada yang berpendapat bahwa punya uang dulu, baru menikah. Ada juga yang berpendapat menikah dulu, nanti rezeki akan semakin berlimpah. Terus terang saya ada di pendapat yang kedua, yaitu tanpa perlu mapan, seseorang sudah bisa menikah, dengan syarat dan ketentuan berlaku (misal: ya, paling tidak sudah punya calon, hehe).
    Dalam agama saya, islam, menikah itu adalah kewajiban dari Allah swt. Menurut saya, mana mungkin Tuhan mewajibkan hambanya untuk menikah, namun hanya bertujuan untuk menyulitkan hambanya saja. Saya yakin dari perintah tersebut ada jaminan bahwa Tuhan akan mencukupkan hambanya. Jika mengacu pada rumus berumah tangga di atas, saya pikir baru usia hampir 40 tahun saya baru bisa menikah, sedangkan kewajiban menikah sudah melekat pada saya di usia 20an. Hmm..
    Keyakinan saya, menikah itu tidak perlu sudah punya rumah sendiri, tidak perlu sudah punya mobil, dan tidak perlu resepsi yang mewah. Menurut saya, yang penting dalam suatu pernikahan adalah karena Tuhan, lalu yakin dapat menafkahi dan memberikan tempat tinggal untuk berteduh bagi keluarga, dan keyakinannya itu bertanggung jawab, lalu tidak perlu suatu pesta yang besar atau mewah.
    Orang-orang seperti saya selalu terantuk di poin mengadakan resepsi. Memang karena adat di Indonesia dan gengsi, sehingga mengadakan resepsi besar seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Padahal dalam islam, yang wajib adalah mengadakan akad nikah. Dan sebuah sunnah mengadakan walimatul ursy, dengan mengutamakan memberi makan kepada anak-anak yatim. Saya ingin bahas mengenai walimatul ursy. Sepengetahuan saya, inti dari mengadakan walimatul ursy adalah mengumumkan bahwa sepasang lelaki dan perempuan telah sah menjadi sepasang suami-istri, dan melakukan syukuran. Apa orang zaman sekarang kurang kreatif sehingga menerjemahankan walimatul ursy menjadi mengadakan resepsi besar di gedung, mengundang hampir 1000 orang, dan menghabiskan uang hampir ratusan juta, tapi mengharapkan amplop dari tamu. Padahal mengadakan pengumuman zaman sekarang lebih efektif melalui cara lain, misal jejaring sosial, sms, telepon, dll. Dan untuk syukuran, bisa mengadakan potong tumpeng, mengundang sebuah panti asuhan, atau apa pun yang lebih banyak manfaanya dan jauh lebih ringan biayanya, sehingga rumus berumah tangga di atas menjadi ketinggalan zaman. : D

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
    • cicifera 6:46 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

      wiihh.. tampaknya ada yang akan menikah ya man tahun ini.. :))

      • Salman Kan 7:17 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

        iya Fer, pasti ada. Coba deh sekali-kali samperin KUA, liat berapa ribu orang yang daftar menikah tiap tahunnya.

    • echa 8:29 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

      setuju bad!…ayo ibad segera menikah hahahaha…
      tidak perlu menunggu mapan untuk menikah, ketika kita sudah menyatakan siap untuk menikah maka kita juga secara sadar harus siap untuk bertanggung jawab baik yang sifatnya lahir maupun bathin dalam hal ini lebih mengarah ke lahir…
      kalau saya fikir, ketika seseorang menikah khususnya kaum pria yang merupakan pencari nafkah, dia tidak akan membiarkan keluarganya (istri dan anaknya) terlantarkan? kecuali jika memang pria tersebut tidak bertanggung jawab yang artinya berarti sebenarnya dia belum siap untuk menikah…
      Ayo ibad…saya dukung kamu segera menikah dengannya hahaha 😀

    • mrjoule 3:42 pm on February 24, 2012 Permalink | Reply

      kak salman ini memang habat :D, kapan dong

      • Salman Kan 4:12 pm on February 24, 2012 Permalink | Reply

        Hihihi.. Kak tahjul bisa saja :”>

  • Salman Kan 8:05 am on January 9, 2012 Permalink | Reply  

    Post-testing dari Email 

    Percobaan menambah posting dari email. Tes satu dua tida.. (Mungkin maksudnya tiga) Sent from my smart-enough phone

     
  • Salman Kan 10:38 pm on January 3, 2012 Permalink | Reply
    Tags: sandal berserakan   

    Masih Ada yang Merasa Risih? 

    risih

    Ikan Pindang Sendal

    Saya sering liat sepatu dan sandal berserakan. Keliatannya banyak orang sudah mulai biasa dengan keadaan tersebut, makanya tetap mempertahankannya, bahkan sudah nggak sungkan untuk menginjaknya sembarangan, walau benar sepatu dan sandal itu untuk diinjak. Hmm.

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 2:37 am on January 3, 2012 Permalink | Reply
    Tags: berjalan di eskalator, meningkatkan produktifitas   

    Produktifitas Diturunkan oleh Tangga Eskalator? 

    Menurut saya, lebar tangga, khususnya tangga berjalan (eskalator), tidak untuk dihabiskan sendirian. Ini untuk memberikan kesempatan orang yang sedang buru-buru untuk mendahului kita. Masalah produktifitas sih.
    Apalagi eskalator, jalannya bisa mencapai kecepatan siput. Kenapa nggak bergerak saja, karena katanya, terus bergerak itu baik.
    *Jadi, bagi mba-mas yang sedang pegangan tangan di eskalator & menghabiskan lebar tangga, lepas dulu plis, pas di tangga aja kok : D

     
    • Rudy Thong 8:21 am on January 3, 2012 Permalink | Reply

      ini demi produktivitas ato demi tenggang rasa dengan yang enggak bareng pasangan? :p

      • Salman Kan 8:57 am on January 3, 2012 Permalink | Reply

        Ahaha, akhirnya sih jatuhnya demi meningkatkan kesadaran tenggang rasa 😄

    • hibatun naeem 10:47 am on January 8, 2012 Permalink | Reply

      kalo di luar negeri mah *nyombong* eskalator tuh kaya jalan raya aja, lajur kanan dipakai untuk nyalip, apalagi eskalator di stasion kendaraan umum. ini asli. soalnya saya pernah dimarahi bule dan digeser badannya pas diem di sisi sebelah kanan, pdhal sebelah kiri saya kosong. terus pas udh diem disebelah kiri, liat2 ke eskalator laen emng orang2 yg tdk berjalan diemnya disebelah kiri semua ternyata, yang pasangan pun masih menyisakan tempat di sisi kanannya, mungkin karena mereka bukan sekedar pegangan tangan sih yah 😀

  • Salman Kan 6:04 am on December 29, 2011 Permalink | Reply
    Tags: fitur gmail, kelebihan gmail, tips email, trik email   

    Sedikit Tips-Trik Tentang Email 

    Kemarin saya sempat menulis ini di Twitter saya di @ibad_satria, yaitu beberapa hal yang sifatnya trivial mengenai email, khususnya google mail alias gmail.

    1. Email itu tidak case-sensitive alias ga peduli mau nulisnya pake huruf besar atau kecil. Bahkan penulisan gaya ABG pun diperbolehkan. Jadi menulis djoko@yahoo.com dan DJOKO@YAHOO.com atau djOKO@yAhoO.com, akan sama-sama terkirim ke alamat yang sama. Namun saya lebih menyarankan untuk menuliskan alamat email dengan huruf kapital semua, agar tidak terjadi kerancuan.
    2. Khusus di gmail, dimanapun menaruh titik pada alamat email, tidak akan masalah, tetap terkirim ke alamat yang sama kok. Jadi, mengirim ke salman.kan@gmail.com atau ke salmankan@gmail.com, atau bahkan mengirim ke s..al.m.a.n.k.a.n@gmail.com pun tetap terkirim ke alamat yang sama. Tapi saya belum pernah dengar google menjelaskan hal ini. Saya dapat ini dari hasil coba-coba dan mengobrol dengan teman.
    3. Apabila mendaftarkan diri ke sebuah akun, misal mendaftar ke Twitter.com, kita akan diminta mengisi alamat email kita. Namun apabila email kita sudah pernah terdaftar, sistem akan menolak kita menggunakan alamat email tersebut. Namun ada cara mengakalinya. Misal, kita punya alamat email baba@gmail.com, namun ternyata dulu kita pernah mendaftarkan baba@gmail.com itu ke Twitter.com tersebut. Kita bisa tetap menggunakan baba@gmail.com untuk mendaftar lagi, namun dengan sedikit penambahan kata yang dipisahkan oleh tanda plus ‘+’. Contoh: baba+buattwitter@gmail.com. Aku pikir masih bisa.
     
  • Salman Kan 4:50 pm on December 28, 2011 Permalink | Reply
    Tags: multitasking pada pria   

    Pria dan Multitasking 

    Entah mitos atau bukan yang mengatakan pria tidak bisa multitasking, dan wanitalah satu-satunya yang bisa melakukannya. Saya kurang setuju, karena alasannya kurang kuat bagi saya.
    Saya seorang pria yang sering melakukan antara lain: memasak sarapan, mencuci pakaian, menyapu lantai, dan mencuci motor dalam waktu bersamaan, dan semua beres dalam waktu kurang lebih 15 menit. Ditambah saya tetap kerja dengan komputer saya di lantai 2. Semua bisa saya lewati bersamaan, walau mungkin hasil pekerjaan akan lebih optimal jika dilakukan satu demi satu, tanpa pararel. Tapi kan baru mungkin.
    Sama halnya dengan kesibukan saya yang lainnya sekarang. Saya sebagai karyawan, tetap mengerjakan proyek sampingan, lalu menjadi ketua di 2 buah lembaga, lalu memimpin sebuah kepanitiaan. Memang diakui, terasa sekali beberapa hasil yang didapat di bawah harapan, tapi ini menunjukan ternyata pria bisa kok multitasking.
    Bisa jadi “bisa karena biasa dan akan makin bisa” ini saya dapat dari didikan di kuliah dulu di institut tugas banyak : D

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 5:12 am on December 28, 2011 Permalink | Reply
    Tags: wassalam yang lemah   

    Mengapa Harus Merendahkan Diri Sendiri? 

    Saya sering heran mengapa di akhir surat atau email ada kata-kata “wassalam yang lemah”. Alih-alih memberi penghormatan kepada si penerima, malah jadi terdengar negatif. Saya paham, mungkin maksudnya si penulis adalah “tidak ada kekuatan melainkan dari Tuhan”. Tapi saya pikir ada cara lain untuk menunjukan kebesaran Tuhan dibandingkan merendahkan diri sendiri seperti itu.
    Hal lainnya adalah, saya sering bertemu dengan orang yang sangat mengandalkan orang lain. Kesannya dia tidak bisa hidup mandiri. Sebagai contoh, seseorang sangat mudah sekali menanyakan suatu hal kepada orang lain, padahal hal tersebut bisa dia cari tahu sendiri. Ketika kita menolak untuk memberikan bantuan, karena kita sedang sibuk atau kita ingin membuat dia mandiri, orang tersebut malah menganggap kita pelit atau orang tersebut beralasan kalo dirinya belum pernah tahu hal tersebut. Atau hal ini, hal yang paling membuat saya sering kesal, ketika seseorang tersebut membawa-bawa gender, misal, “gua kan cewe, lu cowo. harusnya bisa bantu cewe dong”, atau “gua kan cowo, mana tahu hal begituan”. Menurut saya, ada lah batasan di mana hal tersebut masih dianggap wajar.

     
  • Salman Kan 7:23 am on December 27, 2011 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Secuplik Tentang Scala 

    Dipikir-pikir, bahasa pemrograman Scala sudah semakin populer saat ini di Indonesia. Banyak keunggulan dari bahasa dan paradigma Scala ini dibandingkan dengan bahasa dan paradigma pemrograman lain. Paradigma pemrograman ini adalah fungsional. Kelebihan yang bisa dilihat secara langsung dari paradigma fungsional ini adalah line of code bisa jauh lebih sedikit dibandingkan line of code paradigma pemrograman lainnya alias ringkas.

    Contoh:
    Untuk mencari jumlah dari angka 1 sampai 10, dalam Java, kita perlu membuat fungsi sebagai berikut:

    int menjumlahkanDari1Ke10() {
    int val = 0;
    for(int i = 1; i <= 10; i++) {
    val += i;
    }
    return val;
    }

    kurang lebih 7 lines of code.

    Sedangkan di Scala:

    def menjumlahkanDari1Ke10() = (1 to 10).toList.foldLeft(0)(_+_)

    Hmm..Cukup dengan 1 line of code saja.

    Fitur lain yang luar biasa, menurut saya:
    1. Actor, untuk concurency. Yang kelihatannya sudah pasti thread-safe
    2. Trait, padanannya interface class di Java
    3. dll

    Link belajar Scala

    Ok, it’s wrap.

     
    • Salman Kan 4:51 am on December 28, 2011 Permalink | Reply

      Kupikir banyak anak IF ITB termasuk saya yang mempelajari Scala memiliki rasa penyesalan atas pemrograman fungsional ini, kenapa dulu ketika kuliah di tingkat 1, pemrograman fungsional kurang serius : D

  • Salman Kan 7:12 am on December 27, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , foldright,   

    Masalah Fungsi foldRight() di Bahasa Scala 

    Sejak beberapa waktu lalu saya menemukan keanehan di fungsi bawaan Scala, foldRight. Berikut:

    Pertama saya buat list berukuran kecil yang bernama babaPendek:

    var babaPendek = 1 to 10 toList
    babaPendek: List[Int] = List(1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10)

    Lalu saya buat list berukuran besar bernama babaPanjang:

    var babaPanjang = 1 to 10000 toList
    babaPanjang: List[Int] = List(1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 104, 105, 106, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 134, 135, 136, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144, 145, 146, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 155, 156, 157, 158, 159, 160, 161, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 168, 169, 170, 171, 172, 173, 174, 175, ...

    Kita cobakan babaPendek dengan foldLeft:

    babaPendek.foldLeft("ah")(_+_)
    res6: java.lang.String = ah12345678910

    Lalu babaPanjang dengan foldRight:

    babaPendek.foldRight("ah")(_+_)
    res7: java.lang.String = 12345678910ah

    Tidak ada masalah menggunakan fungsi foldLeft dan foldRight pada list babaPendek. Lalu kita cobakan fungsi foldLeft dan foldRight pada list babaPanjang:

    babaPanjang.foldLeft("ah")(_+_)
    res8: java.lang.String = ah12345678910111213141516171819202122232425262728293031323334353637383940414243444546474849505152535455565758596061626364656667686970717273747576777879808182838485868788899091929394959697989910010110210310410510610710810911011111211311411511611711811912012112212312412512612712812913013113213313413513613713813914014114214314414514614714814915015115215315415515615715815916016116216316416516616716816917017117217317417517617717817918018118218318418518618718818919019119219319419519619719819920020120220320420520620720820921021121221321421521621721821922022122222322422522622722822923023123223323423523623723823924024124224324424524624724824925025125225325425525625725825926026126226326426526626726826927027127227327427527627727827928028128228328428528628728828929029129229...

    Ternyata sukses!

    Lalu foldRight pada list babaPanjang:

    babaPanjang.foldRight("ah")(_+_)
    java.lang.StackOverflowError
    at scala.collection.immutable.List.foldRight(List.scala:45)
    at scala.collection.LinearSeqOptimized$class.foldRight(LinearSeqOptimized.scala:120)
    at scala.collection.immutable.List.foldRight(List.scala:45)
    at scala.collection.LinearSeqOptimized$class.foldRight(LinearSeqOptimized.scala:120)
    at scala.collection.immutable.List.foldRight(List.scala:45)
    at scala.collection.LinearSeqOptimized$class.foldRight(LinearSeqOptimized.scala:120)
    .......................................
    at scala.collection.immutable.List.foldRight(List.scala:45)
    at scala.collection.LinearSeqOptimized$class.foldRight(LinearSeqOptimized.scala:120)

    Ternyata foldRight ga bekerja pada list yang berukurang besar, gagal! Nggak tahu kenapa : D

    Solusi dari saya untuk menggantikan fungsi foldRight pada list yang berukuran besar, gunakan:

    babaPanjang.reverse.foldLeft("ah")(_+_)
     
    • Salman Kan 7:30 am on December 27, 2011 Permalink | Reply

      Setelah cari-cari di internet kenapa-kenapanya foldRight bermasalah pada list berukuran besar, ternyata implementasi foldRight menggunakan rekursif, sedangkan foldLeft tidak, alias hanya pakai loop biasa.
      Udah sih, aman pakai reverse.foldLeft untuk menggantikan foldRight

  • Salman Kan 7:52 am on December 13, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Asana, project team management, redmine, software development, task management, teambox   

    Tool Untuk Task Management: Asana 

    Teambox dan Redmine adalah project management tool yang saya sudah cukup akrab dengan mereka. Keduanya merupakan tool yang baik untuk berkoordinasi dengan anggota tim dalam sebuah project. Tapi keterbatasan cukup berakibat pada tim saya. Redmine, project management tool yang simple tapi powerful, ternyata membutuhkan server untuk hosting. Sedangkan Teambox, walau cloud, masih dibatasi oleh maksimal 3 buah project. Sedangkan saya sedang menghadapi lebih dari 3 project : D
    Baru kemarin saya diperkenalkan oleh anggota tim sebuah task management tool, Asana. Dari user interface-nya saja sudah eye-catching. Dan ketika melihat ke dalam, ternyata sangat simple, mudah dimengerti. Dibandingkan dengan tools yang sebelumnya kami gunakan, Asana ini paling nyaman untuk digunakan.
    Dan satu catatan, Asana ini tidak khusus didedikasikan untuk software development project, tapi juga untuk holiday project ataupun arisan project pun pas untuk digunakan, karena sistem navigasinya cukup mudah bagi orang awam sekalipun. Itu menurut saya. Terlebih, saya paling suka dengan fitur comment, mirip Facebook, hehe.
    Sayangnya, untuk aplikasi mobile, Asana belum menyediakan untuk Blackberry.

    Tapi sebenarnya email atau google docs pun bisa kita optimalkan jika hanya sekadar koordinasi yang sederhana.

     
    • kanwil 8:01 am on December 13, 2011 Permalink | Reply

      kekurangan: mesti selalu online

      • Salman Kan 8:07 am on December 13, 2011 Permalink | Reply

        tim gw ada yang di jogja. Makanya online itu udah kewajiban

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel