Updates from July, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Salman Kan 3:08 pm on July 21, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Menangis, Mimpi   

    [Ask] Apa Sih Arti Mimpi Menangis? 

    Penasaran sih dengan tafsir menangis di dalam mimpi. Ridicolous, namun sering mengalami sih akhir-akhir ini. Kira-kira sedang tidak stabil kali ya emosinya? Nangisnya seru. Kadang karena mimpinya memang menyedihkan atau terlalu bahagia. Haha.

    Belum nemu nih penjelasannya.

     
    • Deculc 4:31 pm on July 21, 2012 Permalink | Reply

      Mimpi menangis bahagia : akan mengalami hal membahagiakan hingga meneteskan air mata haru. Aamiin yaa robbal’alamiin..

    • Deculc 1:55 am on July 22, 2012 Permalink | Reply

      Menangis bahagia, mungkin itu pertanda sebuah kebaikan, akan mengalami hal membahagiakan sampai menitikan air mata haru. (aamiin yaa robbal’alamiin) ^_^

  • Salman Kan 6:21 am on July 9, 2012 Permalink | Reply
    Tags: buang sampah, kebersihan Bandung, solusi   

    Petugas Kebersihan Mending Bersihkan Daun-daunan Saja Lah 

    Masih kepikiran masalah sampah di jalanan. Bukan sampah daun atau debu yang memang sudah seharusnya ada di sana sih, tapi ini sampah yang sengaja dibuang orang ke jalan.
    Banyak oran yang udah nganggap jalan raya dan selokan itu adalah tempat sampah, karena mungkin berpikir nanti juga akan disapu oleh petugas kebersihan. Nah, coba di Bandung, petugas kebersihannya ditugaskan menyapu sampah daun-daunan saja, jangan nyapu sampah buangan manusia, sampai sampah-sampah buangan manusia menumpuk di jalan. Nanti ketika sampah menumpuk di jalan, mungkin akhirnya banyak yang nyadar tentang pentingnya tidak membuang sampah sembarangan.

     
  • Salman Kan 1:38 pm on April 7, 2012 Permalink | Reply
    Tags: lamaran mewah, pernikahan, pernikahan mewah   

    Menghadiri Acara Lamaran Mewah 

    Saya saat ini sedang menghadiri acara Lamaran sepupu laki-laki saya. Sepengalaman saya di keluarga besar, lamaran itu hanya keluarga saja yang hadir, tidak banyak-banyak rombongan yang datang maupun rombongan yang dilamar. Fyi, kami keluarga sunda.
    Tapi saat ini, banyak banget yang hadir. Di parkiran aja keliatan sampai 20 mobil terparkir, katering serius, danlive musik. Seru nih, udah level akad nikah atau level walimah ini mah.
    Yang gini-gini nih yang akan bikin galau orang-orang yang sedang menabung untuk menikah. Dalam pikiran kami, lamaran aja harus mewah, walau ditanggung pihak wanita. Apalagi acara akad dan walimahnya, harus jauh lebih mewah dari acara lamarannya lah ekspektasinya. : D

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 4:27 am on April 7, 2012 Permalink | Reply
    Tags: harga barang naik, kenaikan BBM, menimbun BBM   

    Saya Menimbun BBM lho! 

    Ribut-ribut isu kenaikan harga BBM bersubsidi akhir bulan maret lalu, saya pun ikut-ikutan seru. Saya sebagai konsumen BBM premium, agak keberatan dengan naiknya harga BBM ini. Karena selain saya mengonsumsi BBM tersebut, saya pasti akan merasakan langsung kenaikan harga barang-barang lain akibat kenaikan harga BBM ini, yang mana akan semakin mencekik orang-orang tak mampu. Apa yang bisa saya lakukan saat itu, selain protes sana-sini di Twitter?
    Menjelang tanggal 1 April yang diisukan akan menjadi waktu kenaikan harga BBM tersebut, saya langsung ikut tren, menimbun BBM di rumah : p
    Saya minta adik saya untuk mengisi penuh tangki bensin motor, lalu di rumah, BBM premium tersebut dipindahkan ke jerigen. Adik saya pun beberapa kali bulak-balik ke SPBU untuk mengisi penuh tangki bensin motor untuk memenuhi jerigen di rumah, selagi harga baru BBM premium belum diberlakukan.
    Yah, emang salah. Tapi sekali-kali saya ingin jadi orang “Indonesia asli” lah. Karena kebutuhan sih. Saya pasti akan disusahkan oleh kenaikan harga BBM tersebut, karena tidak ada alternatif lain dari Pemerintah, semisal pengadaan transportasi masal yang efektif dan representatif, alokasi dana pendidikan yang besar, ataupun kebijakan yang pro rakyat lainnya. “Tahi Ayam lah dengan harga minyak dunia yang semakin mahal. Pejabat korupsi aja didiemin. Pejabat jahat kaya gitu harus masuk neraka”.
    Terus terang, kalo diberi alternatif yang pro rakyat, saya pasti akan sangat ikhlas melihat kenaikan harga BBM itu. Tapi kenyataannya, “pelayan rakyat” itu masih kaya raya, di saat kami semakin miskin. Selama keadaannya seperti itu, saya ga akan merasa bersalah menimbun BBM di rumah di akhir bulan April 2012 kemarin : )

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 7:40 am on February 14, 2012 Permalink | Reply
    Tags: bangsa pelanggar, , peraturan aneh   

    Bangsa yang Terdidik Melanggar 

    Tidak bisa disalahkan juga argumen bahwa bangsa kita adalah bangsa pelanggar. Warga negaranya hobi melanggar peraturan yang ada, sekalipun peraturan telah jelas terpampang. Sebagai contoh, banyak saya temukan angkot maupun kendaraan pribadi yang berhenti tepat sebelum tanda “S coret”, tanda dilarang berhenti. Dan pelanggaran itu sudah dilakukan berjamaah, sulit ditindak. Dan saya beberapa kali menemukan motor parkir di bawah tanda dilarang parkir motor. Hehe, ironis.
    Bagaimana sikap kita? Sebaiknya jangan ikut jadi pelanggar, dan ajak sodara kita untuk tidak jadi pelanggar juga. Walau tantangannya berat. Kita sering disalahkan apabila tidak melanggar itu. Sebagai contoh, ketika kita di lampu stopan jalan raya, berhenti sebelum zebra cross, kita pasti akan diklakson oleh kendaraan-kendaraan di belakang kita, diminta untuk maju. Wah, sulit ya jadi orang baik : D
    Namun menurut saya, budaya melanggar itu adalah didikan pemerintah. Pemerintah seharusnya adalah pihak yang bertanggung jawab membuat peraturan dan mengawasi penerapannya. Namun kenyataannya, mereka hanya menjadi tukang bikin peraturan di atas kertas dan rambu-rambu saja, namun tidak diawasi dan diterapkan dengan baik. Jumlah aparat yang berkewajiban dalam hal ini sangat tidak berbanding. Dan lagi, pemerintah suka membuat peraturan yang “tidak bisa” diterapkan. Sebagai contoh, ada rambu-rambu di jalan yang mulus berbunyi “kecepatan maksimal 5 KM/jam”. Mana mungkin bisa mengendarai dengan kecepatan 5 KM/jam dengan kondisi jalan lurus dan mulus, kebiasaan ngebut masih dibebaskan, tak ada pengawas, dan tak ada ancaman hukuman yang jelas. Lalu contoh lain adalah peraturan baru PT. KAI yang melarang orang merokok di dalam kereta. Mana mungkin bisa diterapkan, jika kebiasaan merokok di tempat umum masih sulit dihilangkan dan jumlah aparat penegaknya tidak sebanding. Ditambah dengan adanya oknum aparat yang “tidak berani” menindak. Memang positif, kita dididik untuk menjadi pelanggar.
    Bayangan saya adalah, jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang disiplin, harus menerapkan sistem hukum yang represif. Tanpa pandang bulu semua pelanggar ditindak secara tegas. Dengan cara demikian, nampaknya warga Indonesia tidak akan kembali melihat rambu-rambu hanya sebagai alat formalitas saja, namun sebagai penertib.

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 1:57 am on January 11, 2012 Permalink | Reply
    Tags: kewajiban menikah, menikah itu mahal, menikah itu murah, sudut pandang menikah   

    Rumus Menikah Zaman Sekarang 

    Rumus berumah tangga:
    Mobil: Rp. 150 juta
    Rumah: Rp. 350 juta
    Resepsi: Rp. 100 juta

    Semua ditotalkan menjadi Rp. 600 juta. 600 juta modal untuk berkeluarga. Nah!
    Ada banyak pendapat mengenai memulai berumah tangga, khususnya pernikahan. Ada yang berpendapat bahwa punya uang dulu, baru menikah. Ada juga yang berpendapat menikah dulu, nanti rezeki akan semakin berlimpah. Terus terang saya ada di pendapat yang kedua, yaitu tanpa perlu mapan, seseorang sudah bisa menikah, dengan syarat dan ketentuan berlaku (misal: ya, paling tidak sudah punya calon, hehe).
    Dalam agama saya, islam, menikah itu adalah kewajiban dari Allah swt. Menurut saya, mana mungkin Tuhan mewajibkan hambanya untuk menikah, namun hanya bertujuan untuk menyulitkan hambanya saja. Saya yakin dari perintah tersebut ada jaminan bahwa Tuhan akan mencukupkan hambanya. Jika mengacu pada rumus berumah tangga di atas, saya pikir baru usia hampir 40 tahun saya baru bisa menikah, sedangkan kewajiban menikah sudah melekat pada saya di usia 20an. Hmm..
    Keyakinan saya, menikah itu tidak perlu sudah punya rumah sendiri, tidak perlu sudah punya mobil, dan tidak perlu resepsi yang mewah. Menurut saya, yang penting dalam suatu pernikahan adalah karena Tuhan, lalu yakin dapat menafkahi dan memberikan tempat tinggal untuk berteduh bagi keluarga, dan keyakinannya itu bertanggung jawab, lalu tidak perlu suatu pesta yang besar atau mewah.
    Orang-orang seperti saya selalu terantuk di poin mengadakan resepsi. Memang karena adat di Indonesia dan gengsi, sehingga mengadakan resepsi besar seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Padahal dalam islam, yang wajib adalah mengadakan akad nikah. Dan sebuah sunnah mengadakan walimatul ursy, dengan mengutamakan memberi makan kepada anak-anak yatim. Saya ingin bahas mengenai walimatul ursy. Sepengetahuan saya, inti dari mengadakan walimatul ursy adalah mengumumkan bahwa sepasang lelaki dan perempuan telah sah menjadi sepasang suami-istri, dan melakukan syukuran. Apa orang zaman sekarang kurang kreatif sehingga menerjemahankan walimatul ursy menjadi mengadakan resepsi besar di gedung, mengundang hampir 1000 orang, dan menghabiskan uang hampir ratusan juta, tapi mengharapkan amplop dari tamu. Padahal mengadakan pengumuman zaman sekarang lebih efektif melalui cara lain, misal jejaring sosial, sms, telepon, dll. Dan untuk syukuran, bisa mengadakan potong tumpeng, mengundang sebuah panti asuhan, atau apa pun yang lebih banyak manfaanya dan jauh lebih ringan biayanya, sehingga rumus berumah tangga di atas menjadi ketinggalan zaman. : D

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
    • cicifera 6:46 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

      wiihh.. tampaknya ada yang akan menikah ya man tahun ini.. :))

      • Salman Kan 7:17 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

        iya Fer, pasti ada. Coba deh sekali-kali samperin KUA, liat berapa ribu orang yang daftar menikah tiap tahunnya.

    • echa 8:29 am on January 11, 2012 Permalink | Reply

      setuju bad!…ayo ibad segera menikah hahahaha…
      tidak perlu menunggu mapan untuk menikah, ketika kita sudah menyatakan siap untuk menikah maka kita juga secara sadar harus siap untuk bertanggung jawab baik yang sifatnya lahir maupun bathin dalam hal ini lebih mengarah ke lahir…
      kalau saya fikir, ketika seseorang menikah khususnya kaum pria yang merupakan pencari nafkah, dia tidak akan membiarkan keluarganya (istri dan anaknya) terlantarkan? kecuali jika memang pria tersebut tidak bertanggung jawab yang artinya berarti sebenarnya dia belum siap untuk menikah…
      Ayo ibad…saya dukung kamu segera menikah dengannya hahaha 😀

    • mrjoule 3:42 pm on February 24, 2012 Permalink | Reply

      kak salman ini memang habat :D, kapan dong

      • Salman Kan 4:12 pm on February 24, 2012 Permalink | Reply

        Hihihi.. Kak tahjul bisa saja :”>

  • Salman Kan 10:38 pm on January 3, 2012 Permalink | Reply
    Tags: sandal berserakan   

    Masih Ada yang Merasa Risih? 

    risih

    Ikan Pindang Sendal

    Saya sering liat sepatu dan sandal berserakan. Keliatannya banyak orang sudah mulai biasa dengan keadaan tersebut, makanya tetap mempertahankannya, bahkan sudah nggak sungkan untuk menginjaknya sembarangan, walau benar sepatu dan sandal itu untuk diinjak. Hmm.

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 5:12 am on December 28, 2011 Permalink | Reply
    Tags: wassalam yang lemah   

    Mengapa Harus Merendahkan Diri Sendiri? 

    Saya sering heran mengapa di akhir surat atau email ada kata-kata “wassalam yang lemah”. Alih-alih memberi penghormatan kepada si penerima, malah jadi terdengar negatif. Saya paham, mungkin maksudnya si penulis adalah “tidak ada kekuatan melainkan dari Tuhan”. Tapi saya pikir ada cara lain untuk menunjukan kebesaran Tuhan dibandingkan merendahkan diri sendiri seperti itu.
    Hal lainnya adalah, saya sering bertemu dengan orang yang sangat mengandalkan orang lain. Kesannya dia tidak bisa hidup mandiri. Sebagai contoh, seseorang sangat mudah sekali menanyakan suatu hal kepada orang lain, padahal hal tersebut bisa dia cari tahu sendiri. Ketika kita menolak untuk memberikan bantuan, karena kita sedang sibuk atau kita ingin membuat dia mandiri, orang tersebut malah menganggap kita pelit atau orang tersebut beralasan kalo dirinya belum pernah tahu hal tersebut. Atau hal ini, hal yang paling membuat saya sering kesal, ketika seseorang tersebut membawa-bawa gender, misal, “gua kan cewe, lu cowo. harusnya bisa bantu cewe dong”, atau “gua kan cowo, mana tahu hal begituan”. Menurut saya, ada lah batasan di mana hal tersebut masih dianggap wajar.

     
  • Salman Kan 5:05 am on December 13, 2011 Permalink | Reply
    Tags: jalanan kota bandung, kecelakaan akibat jalan berlubang, kecelakaan akibat jalan rusak   

    Obrolan Lain Tentang Jalanan Kota Bandung 

    Jangan kan teman-teman saya yang dari luar kota yang mudah tersesat di jalanan kota Bandung, saya pun yang sudah lama tinggal di kota ini masih suka tersesat di padatnya kota ini. Hal yang mungkin menjadi penyebabnya kira-kira karena jalan-jalan di Bandung yang tidak begitu lebar disatuarahkan oleh pihak berwajib. Jadi, “apabila pergi lewat sini, pulangnya ga boleh lewat sini ya, harus lewat sana..”.

    Selain itu menurut saya ada hal yang juga tak kalah menyebabkan ketersesatan. Antara lain, pengemudi, khususnya pengemudi sepeda motor, tidak bisa fokus memperhatikan marka/penunjuk jalan yang sudah disediakan karena pengemudi harus fokus melihat jalanan aspal kota Bandung yang penuh lubang, harus dihindari!

    Ternyata selain menyebabkan seseorang tersesat, jalanan hancur kota Bandung ini pun membuat seorang pengendara kena tilang oleh polisi karena tidak memperhatikan rambu-rambu yang ada (di atas). Hmm…

    Terlebih, apabila kita membaca koran-koran lokal, seperti Tribun Jabar, banyak juga berita mengenai pengemudi sepeda motor yang meninggal akibat kecelakaan karena jalan berlubang. “Pak Polisi, Pak Dada, kami sudah pakai helm standar nasional Indonesia nih, kok masih juga bisa meninggal akibat kecelakaan sih?”. Plis jangan berargumen kalo meninggal saat kecelakaan itu bisa terjadi akibat trauma selain di kepala saja, karena itu ga berkaitan dengan apa yang saya maksud, atau pun jangan berargumen kalo meninggal itu sudah takdir.

    Hmm.. Saya berpendirian bahwa takdir itu bisa diubah, atau takdir itu banyak jalurnya, tergantung apa yang kita usahakan hari ini.  Jadi, hal kongkrit apakah yang bisa kita lakukan?

     
  • Salman Kan 8:55 am on November 27, 2011 Permalink | Reply
    Tags: mental bangsa rusak, peminta-minta, pengemis   

    Peminta-minta, Bakal Mental Bangsa 

    Dari rumah ke kantor saya kira-kira melewati 13 buah persimpangan, atau 13 lampu lalu-lintas. Dan hampir tiap perempatan tersebut bisa ditemui pengemis, peminta-minta, dan pengamen dengan segala aksinya. Ada yang memang sungguhan mereka cacat fisik, ada juga yang pura-pura. Mungkin itu tidak masalah bagi saya. Yang masalah adalah ketika mereka mulai memaksa kita memberikan uang, dan akan marah-marah apabila diberi uang kurang dari Rp.1000. Susah juga ya mengajak mereka berpikir bahwa saya melewati paling tidak 13 persimpangan setiap harinya. Bagaimana jika saya memberikan 1000 rupiah di tiap persimpangan, sudah 13.000 rupiah. Belum ketika jalan pulang, dua kali lipatnya, paling tidak 26.000 rupiah perhari. Bagaimana bisa saya memberi 26.000 setiap harinya kepada orang-orang semacam itu, sedangkan saya juga sama-sama perlu uang?
    Semua pasti tahu apabila cara mereka begitu dalam meminta-minta, berapa pendapatan mereka perjam? Perhari? Dan perbulan? Hanya dengan cara mengemis saja!
    Menurut saya ini bukan pembentukan sosial yang baik. Jangan membiarkan bangsa kita menjadi mental peminta-minta. Tentu, masyarakat dengan mental peminta-minta itu cenderung selalu ingin enaknya saja, tidak biasa memberi, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa jadi bangsa yang besar?
    Jika ingatan jaman SD saya masih ada, berarti bunyi salah satu pasal di UUD ’45 adalah “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Mungkin pemerintah selama ini salah menafsirkan pasal tersebut. Tafsir mereka, “Negara memelihara (mempertahankan) fakir miskin dan anak-anak terlantar”. Ya, sepertinya begitu interpretasi mereka makanya sejak tahun 45 hingga sekarang yang namanya fakir miskin dan anak terlantar tak ada habisnya.

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel