Bangsa yang Terdidik Melanggar

Tidak bisa disalahkan juga argumen bahwa bangsa kita adalah bangsa pelanggar. Warga negaranya hobi melanggar peraturan yang ada, sekalipun peraturan telah jelas terpampang. Sebagai contoh, banyak saya temukan angkot maupun kendaraan pribadi yang berhenti tepat sebelum tanda “S coret”, tanda dilarang berhenti. Dan pelanggaran itu sudah dilakukan berjamaah, sulit ditindak. Dan saya beberapa kali menemukan motor parkir di bawah tanda dilarang parkir motor. Hehe, ironis.
Bagaimana sikap kita? Sebaiknya jangan ikut jadi pelanggar, dan ajak sodara kita untuk tidak jadi pelanggar juga. Walau tantangannya berat. Kita sering disalahkan apabila tidak melanggar itu. Sebagai contoh, ketika kita di lampu stopan jalan raya, berhenti sebelum zebra cross, kita pasti akan diklakson oleh kendaraan-kendaraan di belakang kita, diminta untuk maju. Wah, sulit ya jadi orang baik : D
Namun menurut saya, budaya melanggar itu adalah didikan pemerintah. Pemerintah seharusnya adalah pihak yang bertanggung jawab membuat peraturan dan mengawasi penerapannya. Namun kenyataannya, mereka hanya menjadi tukang bikin peraturan di atas kertas dan rambu-rambu saja, namun tidak diawasi dan diterapkan dengan baik. Jumlah aparat yang berkewajiban dalam hal ini sangat tidak berbanding. Dan lagi, pemerintah suka membuat peraturan yang “tidak bisa” diterapkan. Sebagai contoh, ada rambu-rambu di jalan yang mulus berbunyi “kecepatan maksimal 5 KM/jam”. Mana mungkin bisa mengendarai dengan kecepatan 5 KM/jam dengan kondisi jalan lurus dan mulus, kebiasaan ngebut masih dibebaskan, tak ada pengawas, dan tak ada ancaman hukuman yang jelas. Lalu contoh lain adalah peraturan baru PT. KAI yang melarang orang merokok di dalam kereta. Mana mungkin bisa diterapkan, jika kebiasaan merokok di tempat umum masih sulit dihilangkan dan jumlah aparat penegaknya tidak sebanding. Ditambah dengan adanya oknum aparat yang “tidak berani” menindak. Memang positif, kita dididik untuk menjadi pelanggar.
Bayangan saya adalah, jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang disiplin, harus menerapkan sistem hukum yang represif. Tanpa pandang bulu semua pelanggar ditindak secara tegas. Dengan cara demikian, nampaknya warga Indonesia tidak akan kembali melihat rambu-rambu hanya sebagai alat formalitas saja, namun sebagai penertib.

Posted with WordPress for BlackBerry.