Obrolan Lain Tentang Jalanan Kota Bandung

Jangan kan teman-teman saya yang dari luar kota yang mudah tersesat di jalanan kota Bandung, saya pun yang sudah lama tinggal di kota ini masih suka tersesat di padatnya kota ini. Hal yang mungkin menjadi penyebabnya kira-kira karena jalan-jalan di Bandung yang tidak begitu lebar disatuarahkan oleh pihak berwajib. Jadi, “apabila pergi lewat sini, pulangnya ga boleh lewat sini ya, harus lewat sana..”.

Selain itu menurut saya ada hal yang juga tak kalah menyebabkan ketersesatan. Antara lain, pengemudi, khususnya pengemudi sepeda motor, tidak bisa fokus memperhatikan marka/penunjuk jalan yang sudah disediakan karena pengemudi harus fokus melihat jalanan aspal kota Bandung yang penuh lubang, harus dihindari!

Ternyata selain menyebabkan seseorang tersesat, jalanan hancur kota Bandung ini pun membuat seorang pengendara kena tilang oleh polisi karena tidak memperhatikan rambu-rambu yang ada (di atas). Hmm…

Terlebih, apabila kita membaca koran-koran lokal, seperti Tribun Jabar, banyak juga berita mengenai pengemudi sepeda motor yang meninggal akibat kecelakaan karena jalan berlubang. “Pak Polisi, Pak Dada, kami sudah pakai helm standar nasional Indonesia nih, kok masih juga bisa meninggal akibat kecelakaan sih?”. Plis jangan berargumen kalo meninggal saat kecelakaan itu bisa terjadi akibat trauma selain di kepala saja, karena itu ga berkaitan dengan apa yang saya maksud, atau pun jangan berargumen kalo meninggal itu sudah takdir.

Hmm.. Saya berpendirian bahwa takdir itu bisa diubah, atau takdir itu banyak jalurnya, tergantung apa yang kita usahakan hari ini.  Jadi, hal kongkrit apakah yang bisa kita lakukan?