Peminta-minta, Bakal Mental Bangsa

Dari rumah ke kantor saya kira-kira melewati 13 buah persimpangan, atau 13 lampu lalu-lintas. Dan hampir tiap perempatan tersebut bisa ditemui pengemis, peminta-minta, dan pengamen dengan segala aksinya. Ada yang memang sungguhan mereka cacat fisik, ada juga yang pura-pura. Mungkin itu tidak masalah bagi saya. Yang masalah adalah ketika mereka mulai memaksa kita memberikan uang, dan akan marah-marah apabila diberi uang kurang dari Rp.1000. Susah juga ya mengajak mereka berpikir bahwa saya melewati paling tidak 13 persimpangan setiap harinya. Bagaimana jika saya memberikan 1000 rupiah di tiap persimpangan, sudah 13.000 rupiah. Belum ketika jalan pulang, dua kali lipatnya, paling tidak 26.000 rupiah perhari. Bagaimana bisa saya memberi 26.000 setiap harinya kepada orang-orang semacam itu, sedangkan saya juga sama-sama perlu uang?
Semua pasti tahu apabila cara mereka begitu dalam meminta-minta, berapa pendapatan mereka perjam? Perhari? Dan perbulan? Hanya dengan cara mengemis saja!
Menurut saya ini bukan pembentukan sosial yang baik. Jangan membiarkan bangsa kita menjadi mental peminta-minta. Tentu, masyarakat dengan mental peminta-minta itu cenderung selalu ingin enaknya saja, tidak biasa memberi, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa jadi bangsa yang besar?
Jika ingatan jaman SD saya masih ada, berarti bunyi salah satu pasal di UUD ’45 adalah “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Mungkin pemerintah selama ini salah menafsirkan pasal tersebut. Tafsir mereka, “Negara memelihara (mempertahankan) fakir miskin dan anak-anak terlantar”. Ya, sepertinya begitu interpretasi mereka makanya sejak tahun 45 hingga sekarang yang namanya fakir miskin dan anak terlantar tak ada habisnya.

Posted with WordPress for BlackBerry.