Alumni ITB dan Perusahaan Asing

Tepat kemarin malam saya berkumpul dengan beberapa teman dekat. Kami mengobrol macam-macam, dari mulai obrolan mengenai Sea Games yang masih hangat untuk dibicarakan, masalah bisnis, hingga masalah-masalah di Indonesia.
Masalah yang tidak habis dibicarakan adalah permasalahan bangsa, yang hingga 2 jam obrolan kami berjalan, belum juga selesai. Terlalu banyak masalah di Indonesia yang membuat kami prihatin dan cukup geram. Poin yang paling sering kami bahas adalah mengenai penggadaian bangsa terhadap bangsa lain yang istilah tersebut sudah sering saya dengar. Memang saya akui banyak data yang kami bicarakan tidak bisa begitu kami pertanggung jawaban. Kami menganalisa hanya berdasarkan apa yang kami lihat, rasakan, dan baca. Wajarlah begitu, daripada tidak peduli sama sekali.
Di tengah perbincangan, kami membahas sumber daya alam dan kekayaan bangsa lainnya yang lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan suatu pihak dan asing daripada kepentingan internal bangsa. Dan tak bisa saya tolak ketika mereka menuduh saya dan kawan-kawan yang merupakan alumni ITB itu banyak yang “bodoh” juga, karena mau saja bekerja untuk perusahaan asing daripada membangun bangsa dari dalam. Terus terang saya sedih akan hal ini. Ini hal yang saya tidak suka dan tidak bisa saya tampik, karena memang demikian adanya. Bahkan saya banyak dapat cerita mengenai posisi-posisi strategis perusahaan asing yang dipegang oleh alumni ITB.
Saya bilang saja kalo saya bekerja untuk perusahaan yang bukan asing dan saya ada kecenderungan untuk berwirausaha walaupun kontribusi saya belum begitu terlihat sekarang. Tapi teman-teman ITB saya memang banyak yang demikian, karena mungkin motivasi utama kebanyakan adalah untuk pemenuhan kebutuhan finansial pribadi. #laluhening.