Updates from November, 2011 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Salman Kan 8:55 am on November 27, 2011 Permalink | Reply
    Tags: mental bangsa rusak, peminta-minta, pengemis   

    Peminta-minta, Bakal Mental Bangsa 

    Dari rumah ke kantor saya kira-kira melewati 13 buah persimpangan, atau 13 lampu lalu-lintas. Dan hampir tiap perempatan tersebut bisa ditemui pengemis, peminta-minta, dan pengamen dengan segala aksinya. Ada yang memang sungguhan mereka cacat fisik, ada juga yang pura-pura. Mungkin itu tidak masalah bagi saya. Yang masalah adalah ketika mereka mulai memaksa kita memberikan uang, dan akan marah-marah apabila diberi uang kurang dari Rp.1000. Susah juga ya mengajak mereka berpikir bahwa saya melewati paling tidak 13 persimpangan setiap harinya. Bagaimana jika saya memberikan 1000 rupiah di tiap persimpangan, sudah 13.000 rupiah. Belum ketika jalan pulang, dua kali lipatnya, paling tidak 26.000 rupiah perhari. Bagaimana bisa saya memberi 26.000 setiap harinya kepada orang-orang semacam itu, sedangkan saya juga sama-sama perlu uang?
    Semua pasti tahu apabila cara mereka begitu dalam meminta-minta, berapa pendapatan mereka perjam? Perhari? Dan perbulan? Hanya dengan cara mengemis saja!
    Menurut saya ini bukan pembentukan sosial yang baik. Jangan membiarkan bangsa kita menjadi mental peminta-minta. Tentu, masyarakat dengan mental peminta-minta itu cenderung selalu ingin enaknya saja, tidak biasa memberi, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa jadi bangsa yang besar?
    Jika ingatan jaman SD saya masih ada, berarti bunyi salah satu pasal di UUD ’45 adalah “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Mungkin pemerintah selama ini salah menafsirkan pasal tersebut. Tafsir mereka, “Negara memelihara (mempertahankan) fakir miskin dan anak-anak terlantar”. Ya, sepertinya begitu interpretasi mereka makanya sejak tahun 45 hingga sekarang yang namanya fakir miskin dan anak terlantar tak ada habisnya.

    Posted with WordPress for BlackBerry.

    Advertisements
     
  • Salman Kan 5:18 pm on November 24, 2011 Permalink | Reply
    Tags: jalan braga, pedestrian area, revitalisasi braga   

    Oh Jalan Braga, Oh Bandung 

    Tahun 2009 saya ikut seminar di kuliah Komunikasi Pembangunan, mata kuliah umum di ITB. Seminar tersebut membahas mengenai rencana revitalisasi daerah Braga-Bandung oleh Pemerintah Kota(pemkot bandung). Saya dengar pemaparan dari perwakilan pemkot bandung dengan baik dan penuh minat atas rencana tersebut. Katanya, Braga akan menjadi tempat berkumpul para seniman, katanya akan menjadi pedestrian area, katanya akan ada wisata air di sungai cikapundung, dll. blah! bluff!
    Buktinya sekarang, 2 tahun kemudian, tidak terjadi perbaikan yang berarti, tidak terlihat adanya usaha revitalisasi. Yang ada malah suguhan jalan batu di jalan Braga yang kian hari kian rusak, yang beberapa bulan sekali harus menjadi macet total akibat perbaikan jalan batu yang rusak dilindas ratusan mobil tiap jamnya. Kenapa ga dimulai proyek revitalisasinya? Minimal jadikan pedestrian lah, sebab jalan batu seperti itu ga cocok untuk jalanan kendaraan yang berat. Toh seluruh warga sudah maklum dengan jalan di bandung yang diputar-putar, dialihkan, dan disatuarahkan. Saya curiga ini memang adalah proyek abadi objekan para oknum di pemkot bandung itu. Gimana bisa ga percaya coba?

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 4:58 pm on November 24, 2011 Permalink | Reply
    Tags: embedded system, finite state machine, quote hardware   

    Apalah Itu FMS 

    Minggu ini saya berkenalan kembali dengan benda asing yang bernama Finite State Machine (FSM). Silahkan cari tau sendiri di internet definisi FSM itu apa. Saya sedang dalam proses bongkar-pasang kode yang hubungannya cukup dekat dengan hardware. Embedded system?
    Seingat saya, dan itu pun kalo kebetulan saya dulu sedang tidak bolos kuliah Otomata dan Teori Bahasa Formal, sistem dengan state machine artinya adalah sistem yang hanya mengizinkan proses terjadi pada 1 state saja pada suatu waktu. Bener ga ya? Mohon beri saya waktu untuk mempelajarinya (lagi).

    Quote Hardware: “bergaul dekatlah engkau dengan hardware(mengkode hardware), maka niscaya kesabaranmu akan semakin meningkat dan derajat engkau akan semakin ditinggikan” ~ salman kan

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
  • Salman Kan 9:36 am on November 23, 2011 Permalink | Reply
    Tags: artikel bahasa inggris, mengapa harus bahasa inggris   

    Kenapa Harus Menulis dengan Inggris? 

    Saya kadang tertawa dalam hati ketika melihat tulisan orang Indonesia di blognya, tentang IT yang ditulis dalam bahasa inggris. Bukan apa-apa, tapi karena tulisan tersebut hanya berisi tips-trik IT yang biasa-biasa saja, bukan tulisan yang “waahh” dan bukan topik yang sulit ditemui juga.
    Saya jadi ingin tahu apa motivasi dia menulis artikel macam itu dengan bahasa inggris. Sebab kecil kemungkinan bule-bule akan membacanya, karena bule-bule kebanyakan sudah lebih maju dari kita dan masih ada tulisan sejenis yang ditulis oleh bule lainnya, yang lebih bagus tentunya. Dan terlebih, sebenarnya bangsa Indonesia lebih membutuhkan tambahan pengetahuan untuk lebih maju, negara kita masih negara berkembang!
    Banyak orang Indonesia yang belum fasih mengerti bahasa inggris, jadi kenapa harus pakai bahasa inggris? #sekalisekalisihsayaakanmenulispakaiinggrisuntukmenunjukangacumakamuyangbisabahasainggris

    Posted with WordPress for BlackBerry.

     
    • ghe 2:40 am on December 6, 2011 Permalink | Reply

      buat latihan ngelancarin writing, mungkin?

  • Salman Kan 4:42 am on November 23, 2011 Permalink | Reply
    Tags: kendala menulis blog, masalah blogger   

    Apakah Penyebab Jarangnya Blog Terupdate? 

    Sekitar 2 minggu lalu saya diajak seorang teman kantor untuk ikut gathering (kopi darat) komunitas blogger Bandung. Secara spontan saya berkata kalau saya bukan seorang blogger. Tiba-tiba saya teringat kalo saya memiliki blog ini, hahaha.
    Last update blog ini april tahun 2010! Dan untungnya password yang sempat lupa, berhasil di-recovery.
    Semenjak aktif di Twitter, banyak blogger yang mengurangi update tulisan di blognya. Apa karena mengupdate blog lebih sulit ketimbang mengupdate Twitter yang maksimal hanya 140 karakter? Padahal menulis blog pun bisa saja kurang dari 140 karakter. Apa karena di blog narsisitas seseorang kurang terakomodasi? Haha, mungkin saja, tapi saya tidak tahu.
    Yang pasti, saya sudah menemukan applikasi wordpress untuk smart-enough phone saya, sehingga kendala “akses ke wordpress itu sulit” menjadi hilang. #semogajadirajinnulislagiamiinn

     
  • Salman Kan 4:18 am on November 23, 2011 Permalink | Reply
    Tags: alumni ITB, , masalah bangsa   

    Alumni ITB dan Perusahaan Asing 

    Tepat kemarin malam saya berkumpul dengan beberapa teman dekat. Kami mengobrol macam-macam, dari mulai obrolan mengenai Sea Games yang masih hangat untuk dibicarakan, masalah bisnis, hingga masalah-masalah di Indonesia.
    Masalah yang tidak habis dibicarakan adalah permasalahan bangsa, yang hingga 2 jam obrolan kami berjalan, belum juga selesai. Terlalu banyak masalah di Indonesia yang membuat kami prihatin dan cukup geram. Poin yang paling sering kami bahas adalah mengenai penggadaian bangsa terhadap bangsa lain yang istilah tersebut sudah sering saya dengar. Memang saya akui banyak data yang kami bicarakan tidak bisa begitu kami pertanggung jawaban. Kami menganalisa hanya berdasarkan apa yang kami lihat, rasakan, dan baca. Wajarlah begitu, daripada tidak peduli sama sekali.
    Di tengah perbincangan, kami membahas sumber daya alam dan kekayaan bangsa lainnya yang lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan suatu pihak dan asing daripada kepentingan internal bangsa. Dan tak bisa saya tolak ketika mereka menuduh saya dan kawan-kawan yang merupakan alumni ITB itu banyak yang “bodoh” juga, karena mau saja bekerja untuk perusahaan asing daripada membangun bangsa dari dalam. Terus terang saya sedih akan hal ini. Ini hal yang saya tidak suka dan tidak bisa saya tampik, karena memang demikian adanya. Bahkan saya banyak dapat cerita mengenai posisi-posisi strategis perusahaan asing yang dipegang oleh alumni ITB.
    Saya bilang saja kalo saya bekerja untuk perusahaan yang bukan asing dan saya ada kecenderungan untuk berwirausaha walaupun kontribusi saya belum begitu terlihat sekarang. Tapi teman-teman ITB saya memang banyak yang demikian, karena mungkin motivasi utama kebanyakan adalah untuk pemenuhan kebutuhan finansial pribadi. #laluhening.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel