Pameran Seni PSB

Di ITB kemarin, sabtu 22 Desember diadakan acara empat tahunan sekali, yaitu PSB atau yang lebih singkatanya disebut “Pameran Seni dan Budaya”. Acara ini memang rutin diadakan empat tahunan oleh KM ITB . Saya kemarin semangat sekali untuk datang karena penasaran dengan acara tersebut, masalahnya empat tahun sekali sih! Saya pernah menyesal karena setahun yang lalu di ITB diadakan acara pasar seni, dan saya tidak datang, padahal menurut sumber temen-temen yang terpercaya, cara itu luar biasa rame, dan acara itu adalah acara empat tahunan, malah utuk selanjutnya akan diadakan lima tahun sekali mulai dari sekarang. Sumpah nyesel banget! Udah keburu bawa anak atuh kalo nunggu lima tahun lagi.

PSB saya datang agak siang, saya mengira akan sangat meriah seperti desas-desus pasar seni, tetapi keliatannya kurang nih, masih lebih rame OHU (red: Open house unit ITB). Saat itu temen saya bilang kalo pasar seni jauh lebih rame dibandingkan ini (semakin menyesal). Acaranya hanya sekitar kampus Center (peraturan ITB yang baru yang hanya mengizinkan acara tidak lebih dari sekitar kampus center), kurang menggigit sih, coba aja liat ke ITB bagian atas lagi, sepi!! ga keliatan suasana PSBnya. Berkeliling ke stand-stand kebudayaan yang kebanyakan sih dari unit kesenian di ITB, dan saya baru tahu kalo di Indonesia itu ada propinsi baru (maaf), seperti Kutai Barat, dll. Oh, ternyata udah nggak 27 propinsi lagi toh! Ada beberapa stand yang saya incar karena stand tersebut membagi-bagikan makanan daerah secara gratis, itu yang saya suka, gratisan!

Di tengah stand-stand ada panggung yang dari tadi menyuguhkan tari-tarian daerah, banyak banget yang menonton walaupun hari itu siangnya lumayan panas. Keliatannya sih penari didatangkan langsung dari pusat kebudayaan daerah di TMII (ada tulisan di spanduknya), “mungkin” loh ya!. Berjalan ke kampus center bawah, ternyata disana ada pameran juga. Di sana di pamerkan alat-alat kesenian dari berbagai daerah, seperti senjata-senjata daerah, topeng untuk menari, alat musik, kain adat, dmb (dan masih banyak lagi). Di sini juga saya baru pertama kali melihat senjata daerah khas Jawa Barat, kujang (padahal saya orang Jawa Barat asli). Biasanya saya melihat gambar senjata ini pada karung semen (red: semen kujang), hahaha… Ternyata begini toh bentuknya!

Saya bilang acara lumayan sukses, walaupun ada beberapa yang kurang. Tapi secara keseluruhan acara lancar, tidak terlihat ada hal yang mengganggu acara tersebut, semisal hujan. Saya salut banget sama panitia, bisa-bisanya nahan hujan yah! padahal ketika lepas siang, langit udah keliatan mendung, dijamin bubar lah kalo hujan turun. Tapi ternyata tidak, padahal di daerah Bandung Selatan saya dengar turun hujan.

Begitulah gambaran PSB yang diadakan di kampus ITB. Berharap sih kalo warga Indonesia dapat mengenal kebudayaan bangsanya, melestarikannya, dll. Jangan sampai di-claim negara tetangga. Seharusnya hal-hal yang sudah-sudah, menjadi pelajaran bagi seluruh bangsa Indonesia.